Nawang's Journal

Sabtu, 27 Maret 2021

MID Semester Creative Writing: Skripsi Seharusnya Menjadi Opsi Bukan Kewajiban
Maret 27, 20210 Comments

 Name: Nawangsih

Student ID: A1B218071

Entrepreneurship Project to Creative Writing



            Skripsi adalah tugas akhir yang di Indonesia digunakan sebagai syarat untuk mendapatkan gelar sarjana dari perguruan tinggi. skripsi merupakan bagian dari menulis akademik dengan melakukan penelitian yang dipertanggungjawabkan secara ilmiah dan di kerjakan menurut aturan dan tata cara yang telah ditetapkan. Sudah bukan rahasia umum bahwa ketetapan mengerjakan skripsi sebagai syarat kelulusan malah menakutkan dan memberatkan bagi banyak mahasiswa. Sehingga akan muncul ketidaksesuaian antara tujuan awal ditetapkan pengerjaan skripsi dengan hasil yang dapat dicapai mahasiswa. Untuk itu, skripsi seharusnya bukan menjadi satu-satunya syarat kelulusan. Yang artinya seharusnya ada banyak opsi yang dapat bebas dipilih mahasiswa untuk tugas akhir mereka di perguruan tinggi.


            Alasan pertama mengapa seharusnya ada opsi lain sebagai syarat kelulusan selain skripsi ialah hal ini dapat membantu meningkatkan kualitas universitas untuk mengurangi tingkat mahasiswa abadi yang terlambat lulus akibat skripsi. Seperti yang kita ketahui banyak kasus terlambat lulusnya mahasiswa adalah dikarenakan pengerjaan skripsi yang tak kunjung selesai. Terkadang disebabkan oleh kesalahan dan kelalaian mahasiswanya sendiri yang malas mengerjakan, kesulitan untuk menyusun skripsi dan bahkan juga dapat disebabkan oleh pembimbing skripsi yang seakan lepas tangan terhadap mahasiswa bimbingannya. Hal ini malah dapat memburuk reputasi universitas karena menampung mahasiswa abadi. Lebih buruknya lagi, bisa menambah persentase mahasiswa yang di DO akibat telah mencapai limit semester yang telah ditetapkan.


            Alasan kedua adalah terimplementasinya kemerdekaan belajar untuk mahasiswa di semester akhir perkuliahan. Dengan adanya opsi pilihan lain, mahasiswa dapat memilih apakah ingin membuat skripsi atau tidak sebagai tugas akhirnya yang mana artinya tidak ada embel-embel kewajiban dalam pengerjaan skripsi. Universitas dapat menetapkan berbagai ketentuan lain sebagai syarat kelulusan yang dapat dijadikan alternatif untuk menggantikan skripsi berdasarkan bakat dan minat mahasiswa. Sehingga mahasiswa akan lebih menikmati mengerjakan tugas akhir mereka. Seperti misalnya adanya projek yang menghasilkan karya baru untuk masyarakat. Alhasil, mahasiswa akan mendapatkan gambaran konsep apa yang dapat mereka kerjakan di masa depan sesuai dengan bidang mereka.



            Alasan yang ketiga adalah mengurangi muncul nya permasalahan baru. Permasalahan baru yang dapat muncul disini adalah berupa maraknya plagiarisme, joki skripsi, dan kualitas skripsi yang menurun. Hal ini dapat terjadi karena istilah kewajiban malah memberatkan dan menambah beban bagi sebagian mahasiswa yang memang tidak berminat untuk menyusun skripsi sebagai tugas akhir. Timbulnya permasalahan plagiarisme disebabkan oleh mahasiswa setengah hati saat menyusun skripsi sehingga mereka akan sembarangan mengcopy-paste karya orang lain tanpa menyertakan referensi ataupun memparafrase nya terlebih dahulu. Selanjutnya adalah jasa joki skripsi yang merajalela. Dalam ketentuan universitas, menggunakan jasa ini adalah tindakan illegal karena hasil penelitian skripsi haruslah dikerjakan sendiri oleh mahasiswa. Selain itu karena mahasiswa tidak berminat maka besar kemungkinan kualitas skripsi yang dihasilkan tidak akan sebaik hasil dari mahasiswa yang berminat mengerjakan skripsi untuk tugas akhir mereka.


            Pengerjaan tugas akhir seharusnya menjadi pengalaman berharga bagi mahasiswa. Namun, karena banyak universitas di Indonesia seakan menjadikan skripsi sebagai satu-satunya syarat kelulusan, akhirnya muncul beberapa hal yang tidak sesuai dengan tujuan awal ditetapkankannya ketetapan ini. Padahal ada beberapa alasan yang dapat menjadi sisi positif jika skripsi bukan menjadi satu-satunya opsi syarat kelulusan yaitu membantu meningkatkan kualitas universitas untuk mengurangi tingkat mahasiswa abadi yang terlambat lulus akibat skripsi, terimplementasinya kemerdekaan untuk memilih tugas akhir yang sesuai minat mereka, dan mengurangi muncul nya permasalahan baru seperti plagiarisme, joki skripsi, dan kualitas skripsi yang menurun.


            Berikut adalah pendapat saya pribadi, menurut saya tugas akhir seharusnya bukan menjadi momok yang menakutkan bagi mahasiswa. Dengan adanya ketetapan pilihan opsi lain, memungkinkan mahasiswa akan lebih menikmati masa-masa akhir perkuliahan mereka.


Reading Time:

Minggu, 21 Maret 2021

Yuk Intip Ragam Keistimewaan Provinsi Jambi yang Menakjubkan!
Maret 21, 20210 Comments

Name: Nawangsih

Student ID: A1B218071

Entrepreneurship Project in Creative Writing



Provinsi Jambi adalah salah satu provinsi di Indonesia yang terletak di pesisir timur bagian tengah Pulau Sumatera. Secara geografis, Provinsi Jambi terletak di antara  0,45° – 2,45° Lintang Selatan dan antara 101,10° – 104,55° Bujur Timur. Uniknya, provinsi jambi adalah salah satu dari empat provinsi di Indonesia yang memiliki nama yang sama dengan ibukota nya bersama dengan Gorontalo, Bengkulu dan Daerah Khusus Ibukota Jakarta. Sayangnya, masih banyak penduduk Indonesia yang tidak cukup tahu tentang provinsi Jambi. Padahal perlu diketahui ada banyak keistimewaan menarik yang dapat menambah pengetahuan kita dari provinsi ini. Beberapa keistimewaan yang ada di provinsi jambi adalah destinasi wisata alam yang asri dan keanekaragaman budaya yang indah.


Walaupun setiap provinsi di Indonesia memiliki destinasi wisata alam yang asri pula, namun anda tidak akan kecewa dengan destinasi wisata alam yang ada di provinsi Jambi. Dengan memanfaatkan keasrian alam sekitar, pas rasanya jika dikatakan destinasi wisata alam provinsi Jambi sangatlah istimewa. Di provinsi Jambi, terdapat sungai Batanghari yang mana merupakan sungai terpanjang di Sumatera. Jika berkunjung ke sungai Batanghari, anda dapat menemukan fasilitas objek wisata yang memadai seperti perahu-perahu jikaulau ingin menyusuri sungai ini. Dilansir dari tempatwisata.pro tidak hanya sebagai destinasi wisata alam, sungai Batanghari juga memiliki nilai sejarah yang tinggi yang konon disebutkan sungai terpanjang ini menyimpan harta karun dari abad ke 7 Masehi hingga masa perang dunia yang tersimpan didasar sungai.


Selain terdapat sungai terpanjang di Sumatera, gunung tertinggi di Sumatera dan gunung berapi tertinggi diluar Papua ternyata juga berada di provinsi Jambi yaitu Gunung Kerinci. Gunung Kerinci terletak berbatasan dengan provinsi Sumatera Barat di Pegunungan Bukit Barisan dengan ketinggian 3.805 mdpl. Karena merupakan gunung tertinggi di Sumatera, gunung Kerinci dijuluki sebagai Puncak Sumatera. Dari puncaknya, kita bisa menikmati pemandangan alam yang menakjubkan seperti pemandangan Pegunungan Bukit Barisan yang hijau, pemandangan kota-kota disekitar yaitu kota Padang, Jambi, Bengkulu hingga Samudera Hindia. Tidak hanya sungai Batanghari dan gunung Kerinci, jika anda berkunjung ke Jambi, anda akan melihat lebih banyak destinasi wisata alam yang akan memanjakan mata dari penat nya suasana kota.


Selanjutnya, salah satu peninggalan sejarah berupa candi juga terdapat di Jambi yaitu Candi Muaro Jambi. Lokasi candi ini terletak di dekat sungat Batanghari di Danau Lamo, Maro Sebo, Kabupaten Muaro Jambi. Kawasan candi Muaro Jambi merupakan salah satu candi terluas di Asia Tenggara dan tercatat sebagai salah satu warisan dunia UNESCO yang melambangkan nilai-nilai budaya Hindu-Budha. Disebutkan pula bahwa candi ini berusia lebih tua daripada candi Borobudur yang diperkirakan terbentuk sejak abad ke-7 Masehi. Selain dapat menjadi destinasi wisata, berkunjung ke candi Muaro Jambi anda dapat memperoleh keuntungan lainnya yaitu menambah wawasan anda tentang peninggalan sejarah.


Keistimewaan lainnya dari provinsi Jambi adalah keanekaragaman budaya yang tak kalah menarik dengan kota-kota lain. Keanekaragaman budaya di provinsi Jambi ini meliputi kesenian daerah, makanan khas daerah, peninggalan-peninggalan bersejarah, rumah adat, pakaian adat, lagu daerah, senjata tradisional, upacara adat, seni sastra dan juga kerajinan rakyat. Dilansir dari senibudayaku.com ada sekitar 220 jenis kesenian tradisional di provinsi Jambi yang sebagian besar berupa seni tari. Kesenian lainnya yaitu seni musik, lagu daerah, seni bela diri dan seni pahat atau ukir. Beberapa tarian tradisional daerah Jambi diantaranya adalah Tari Sekapur Sirih, Tari Iyo-Iyo, Tari Selampit Delapan, Tari Rangguk, Tari Serentak Satang, dan lain sebagainya. Tidak ketinggalan pula makanan khas daerah Jambi yang cocok untuk wisata kuliner yaitu Tempoyak ikan patin. Tempoyak sendiri terbuat dari fermentasi buah durian. Dari hal ini membuktikan bahwa keanekaragaman budaya di provinsi Jambi sangat lengkap, tidak hanya keanekaragaman kesenian namun juga merambah ke cita rasa kuliner khas daerah.


Keistimewaan provinsi Jambi terletak pada keindahan destinasi wisata alam yang terjaga keasriannya dan keanekaragaman budaya yang menarik. Dengan keistimewaan ini, memungkinkan daerah provinsi Jambi agar lebih dikenal masyarakat baik nasional maupun internasional. Untuk itu, agar keistimewaan ini tetap terjaga sebagai generasi penerus bangsa hendaknya menjaga dan melestarikannya demi memajukan daerah provinsi Jambi.

https://m.daihatsu.co.id/tips-and-event/tips-sahabat/detail-content/5-fakta-menarik-candi-muaro-jambi-bagi-para-wisatawan/

https://www.tempatwisata.pro/wisata/Sungai-Batanghari 

https://m.kumparan.com/kumparantravel/mengenal-gunung-kerinci-gunung-tertinggi-di-sumatera-yang-mempesona-1t2haFqjAga

https://www.senibudayaku.com/2018/05/mengenal-kebudayaan-daerah-jambi.html?m=1


Reading Time:

Minggu, 14 Maret 2021

Dibalik Pendidikan Tinggi Seorang Perempuan
Maret 14, 20210 Comments

 Name: Nawangsih

Class: R-003

Student ID: A1B218071

Entrepreneurship Project in Creative Writing


Di era milenial seperti saat ini, telah banyak wanita yang menuntut kesetaraan derajat dengan laki-laki sehingga tidak ada istilah bahwa derajat perempuan lebih rendah ataupun lebih tinggi dari laki-laki begitu pula sebaliknya. Kita mengenalnya dengan istilah emansipasi wanita. Karena jelas bahwa menjadi perempuan bukan berarti lemah, tidak mandiri dan tidak bisa lebih baik. Dapat kita lihat diluar sana, kebanyakan wanita pada masa kini tidak hanya ingin menjadi ibu rumah tangga saja tetapi juga ingin menyandang gelar pendidikan untuk mendapatkan jenjang karir yang memuaskan. Sayangnya, stereotipe bahwa wanita hanyalah dianggap sebagai pendamping laki-laki yang diwajibkan untuk mengurus rumah, menjaga anak selama 24 jam dan bergantung kepada laki-laki. Itulah yang menyebabkan masih santer terdengar bahwasanya perempuan tidak seharusnya bependidikan tinggi karena pada akhirnya ‘peran’ laki-laki lebih dibutuhkan dalam segala hal. Padahal ada banyak alasan mengapa perempuan seharusnya mengenyam pendidikan tinggi.


            Pertama, wanita yang berpendidikan cenderung mampu berpikir kritis dan kreatif serta berwawasan luas. Perlu diketahui bahwa pendidikan adalah kunci dari perkembangan dan peningkatan kualitas diri. Dewasa ini, untuk bisa diterima dan dihargai di masyarakat seseorang dituntut untuk berkualitas. Tidak hanya dari segi penampilan namun juga bakat dan kecerdasan. Maka dari itu, peran pendidikan sangatlah penting untuk menunjang terbentuknya kualitas diri yang memadai. Dan jelas tidak ada aturan yang menekankan mana yang harus lebih berkualitas, tidak perempuan dan tidak juga laki-laki. Dengan demikian, tidak ada hal yang salah dan aneh jika wanita mengenyam pendidikan tinggi. Wanita berjuang meraih kesuksesan akademik agar mendapatkan kualitas diri yang memadai bukan sekedar hanya ingin diterima dan dihargai di masyarakat.


            Kedua, wanita yang berpendidikan cenderung berkepribadian mandiri sehingga dapat membantu financial keluarga dan menghadapi masalah dengan tangan nya sendiri. Maksudnya adalah kemandirian seorang wanita, sangat berguna untuk menunjang kehidupan sehari-harinya. Tidak setiap saat, orang-orang akan sukarela memberikan bantuan tanpa adanya balas jasa. Dengan adanya bekal ilmu pengetahuan yang didapat dari pendidikan, wanita akan memiliki pola pikir untuk mandiri. Wanita akan mencoba melakukan segala hal berdasarkan inisiatif mereka, menyelesaikan masalah dari hasil pemikiran mereka dan mencari pundi-pundi uang hasil dari kerja keras mereka sendiri dengan memanfaatkan ilmu yang mereka terima dari pendidikan yang telah mereka tempuh.


            Ketiga, wanita yang berpendidikan dapat mendidik dan mengajarkan anaknya dengan baik sesuai dengan perkembangan jaman. Seseorang yang berpendidikan, pasti sangat memahami bahwasanya jaman akan selalu berkembang dengan munculnya penemuan baru, strategi baru ataupun gaya yang baru. Wanita yang berpendidikan akan siap dengan perkembangan jaman ini sehingga kelak ketika menjadi seorang ibu mereka dapat menjadi ibu yang tanggap. Mereka akan mampu melahirkan dan membangun generasi penerus bangsa yang cerdas dan kuat karena mereka akan memberikan pemahaman dan pengajaran terbaik kepada anaknya. Karena faktanya, wanita lah yang akan menjadi ibu yang merupakan ‘sekolah’ pertama bagi anak-anaknya kelak. Untuk itu peran pendidikan orangtua, dapat dikatakan mempengaruhi tumbuh kembang seorang anak.


            Menjadi seorang wanita yang berpendidikan tinggi berarti sadar akan pentingnya ilmu pengetahuan untuk kehidupan yang lebih baik. Memiliki wawasan yang luas, karir yang cemerlang, keluarga yang berkecukupan tentunya menjadi impian yang ingin dicapai. Dengan peduli akan pendidikan, seorang wanita akan semakin mampu untuk mewujudkannya. Karena dengan mengenyam pendidikan tinggi, wanita akan terbiasa untuk berpikir kritis dan kreatif, mampu untuk mandiri dan juga menjadi pendidik dan pengajar terbaik bagi anak-anaknya kelak.


Reading Time:

Minggu, 07 Maret 2021

Vaccine Covid-19 Should Not Be a Mandatory
Maret 07, 20210 Comments

Name: Nawangsih

Student ID: A1B218071

Entrepreneurship Project in Creative Writing




To reduce the spread of the Covid-19 outbreak that has hit the whole world, the Covid-19 vaccine that is distributed and prepared for the public is enforced. The administration of this vaccine is considered to be one of the most effective efforts to complement other preventive measures such as washing hands, wearing masks, and keeping your distance from crowds. The increasing number the spread of Covid-19 has made the Indonesian government emphasize that the policy of giving vaccines is an obligation for every community and if they refuse to carry out vaccination there will be administrative and criminal sanctions. This policy is based on Presidential Regulation Number 14 of 2021 concerning amendments to Presidential Regulation Number 99 of 2020 concerning Vaccines Procurement and Implementation of Vaccinations in the Context of the Covid-19 Pandemic. However, this mandatory vaccine policy actually created a contra which ended up reducing public interest in implementing vaccination. There are several reasons why the government should not emphasize the covid-19 vaccine as mandatory.


The first is to call for the covid-19 vaccine to be a mandatory people will feel that the government is too dependent on it. It can think that people have lost their human right to make choices in life which in this case is the choice of whether to vaccinate or not. Even though the principle is one of the most effective efforts, the government should take actions that are in line with guaranteeing the protection of the human rights of every citizen. Requiring something is the same as taking an act of coercion. And in the end, it raises new problems that result in the reduced public interest in being vaccinated.


Prioritizing and increasing socialization to the public regarding the Covid-19 vaccine is the main key to the smooth handling of Covid-19. This is the reason why the government does not provide the covid-19 vaccine is mandatory. Not all people clearly understand what vaccines are, what the side effects of vaccines, etc. Calling this implementation mandatory, the community will feel already. It is different if the community from the start has succeeded in inviting the community to do voluntarily by promoting socialization so that the community will be happy to be in the vaccine and there will be no 'mandatory' term which is an action to overcome this Covid-19.


The last reason is that the implementation of vaccines that give mandatory terms to the whole community tends to make people afraid. Before doing the vaccine, there will be many questions and doubts from the public, they tend to ask why it must be mandatory, whether it will be safe after being vaccinated, what the side effects are, etc. so that psychologically they will be afraid and think too much. And also people who we know that people who refuse to be vaccinated will be given criminal administrative sanctions. From this, it is clear that the implementation of the covid-19 vaccine is actually a new burden and problem in society. It would be great if the government did not provide that the covid-19 vaccine was mandatory.


By providing vaccine as solutions to tackle the spread of Covid-19, it is indeed the right decision at this time. However, it gives confidence that vaccines are mandatory and if you refuse to give sanctions this will actually lead to pros and cons in society. Implementation of the covid-19 vaccine should not be mandatory. There are several reasons why it should not be obligatory for people who have lost their human rights to make decisions because it is the same as being sent, so the socialization of vaccines if the community is socialized enough, the community will be more open, and the last word 'obligatory' tends to because of fear.


Reading Time:

Jumat, 26 Februari 2021

Sisi Positif Pembelajaran Jarak Jauh yang Mungkin Tidak Kamu Sadari Selama Ini
Februari 26, 20210 Comments
Name: Nawangsih
Student ID: A1B218071
Entrepreneurship Project in Creative Writing


Pandemi COVID-19 yang melanda seluruh dunia, membuat pemerintah di berbagai negara mengambil keputusan untuk menerapkan kebijakan new normal yang mana mengharuskan kita meminimalisir kegiatan di luar rumah dan memperbanyak melakukan pekerjaan dari rumah sebagai gantinya. Jelas dirasakan bahwa adanya pandemi ini sangatlah menghambat kita melakukan aktivitas seperti biasanya. Diikuti juga imbauan dari Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (Kemendikbud) yang menutup sekolah maupun kampus guna mengurangi penyebaran virus lebih lanjut. Walau demikian setiap siswa tetap memiliki hak untuk belajar, untuk itu solusi tepat yang ditawarkan pemerintah adalah belajar secara daring yang dilakukan dirumah. Meski butuh banyak penyesuaian, perlu diketahui bahwa belajar daring terdapat sisi positif untuk guru maupun siswa.


Sisi positif yang terasa perbedaannya jika dibandingkan dengan belajar tatap muka di sekolah adalah pembelajaran daring lebih fleksibel. Fleksibel dalam konteks ini dapat diartikan dengan tidak terikat oleh tempat dan waktu. Umumnya, proses belajar dan mengajar tidak lengkap rasanya jika tidak berada di lingkungan yang memang diperuntukkan untuk melaksanakan pendidikan seperti sekolah, tempat les maupun kampus. Namun, karena proses pembelajaran dialihkan menjadi daring, tempat dilaksanakannya pun menjadi lebih bervariatif pula. Selain itu, waktu proses belajar dan mengajar dapat disesuaikan tergantung kesepakatan bersama walaupun sebelumnya telah ada jadwal yang ditentukan. Hal ini berarti proses belajar mengajar dapat dilakukan kapanpun dan dimanapun.


Pembelajaran secara daring berarti secara tidak langsung menekankan setiap pihak untuk  mengeksplorasi teknologi. Dewasa ini, teknologi menyediakan cakupan yang luas untuk kebebasan belajar mandiri sehingga memudahkan kita menemukan, mengolah, dan menyediakan informasi yang tidak hanya berguna untuk diri sendiri namun juga kepada khalayak umum. Dengan kita mendalami teknologi, wawasan dan kemampuan kita mengaplikasikan teknologi akan berkembang sehingga kita menjadi mengetahui dan memahami pentingnya peranan teknologi. Hal inilah yang menjadi sisi positifnya. Setiap saat kita akan belajar hal baru yang didapat dari usaha mengeksplorasi teknologi seperti kemampuan mengoperasikan mobile learning dan aplikasi perangkat lunak serta menguasai literasi teknologi.


Dengan adanya kebijakan belajar daring, kita mendapatkan kesempatan untuk memutuskan lingkungan belajar yang nyaman bagi kita sendiri. Kesempatan ini menjadi sisi positif lain dari pembelajaran daring. Setiap orang memiliki perspektif yang berbeda-beda terkait kenyamanan belajar. Beberapa siswa lebih nyaman belajar di lingkungan yang tenang namun sebagian lainnya lebih nyaman belajar di lingkungan yang ramai. Untuk itu, kesempatan memutuskan lingkungan belajar ini sangat cocok agar siswa mendapatkan kenyamanan belajar sesuai dengan gaya belajar mereka. Tidak ada paksaan ataupun larangan. Selagi siswa mematuhi kesepakatan pembelajaran daring yang telah ditetapkan, kebebasan lingkungan belajar tidak akan menjadi perdebatan antara guru dan siswa.


Sisi positif lainnya adalah menghemat biaya pengeluaran. Beberapa sekolah dan kampus menetapkan siswa untuk belajar dirumah sehingga mereka tidak akan mengeluarkan biaya sebanyak belajar di lingkungan sekolah dan kampus. Hal ini dikarenakan mereka tidak membutuhkan jasa transportasi, biaya makan ataupun jajan di kantin, bahkan kebutuhan perlengkapan sekolah seperti sekolah normal. Walau dibeberapa waktu akan memungkinkan siswa untuk mengeluarkan uang seperti membeli kuota internet. Untuk itu agar menghindari biaya pengeluaran yang berlebihan, pemerintah memberikan bantuan kuota internet secara berkala setiap satu bulan sekali.


Kebijakan new normal memang terasa memberatkan karena menghambat beberapa aktivitas yang biasa kita lakukan sebelum pandemi termasuk kegiatan belajar mengajar di sekolah dan kampus. Dikarenakan sekolah dan kampus ditutup, pembelajaran tatap muka diganti menjadi pembelajaran secara daring. Meski butuh penyesuaian antara guru dan siswa, namun diberlakukannya pembelajaran daring juga membawa sisi positif seperti fleksibel tempat dan waktu, meningkatkan usaha mengeksplorasi teknologi, kebebasan memutuskan lingkungan belajar dan menghemat biaya pengeluaran.



Reading Time:

Senin, 22 Februari 2021

Warga RT. 08 Semangat Wujudkan Program Kampung BANTAR
Februari 22, 20210 Comments

Senin, 22 Februari 2021 20:41 WIB

Nawangsih & Jihan Eliza



JAMBI – Dalam mewujudkan program kampung BANTAR, warga RT. 08 Kel. Beliung Kec. Alam Barajo Kota Jambi beramai-ramai bergotong royong menyulap lingkungan sekitar rumah mereka menjadi lingkungan yang lebih tertata, indah, serta terlihat unik. Untuk mewujudkannya warga membutuhkan waktu kurang lebih satu bulan pengerjaan yang dimulai dari Juli hingga Agustus 2020.


Perlu diketahui, program kampung BANTAR merupakan salah satu program inisiatif Pemerintah Kota Jambi yaitu ‘Jambi Bangkit Berdaya’ yang bertujuan untuk mengurangi ketimpangan pembangunan antar wilayah, meningkatkan kualitas kesejahteraan masyarakat lingkup RT yang berwawasan lingkungan bersih dan sehat, serta menjaga semangat jiwa gotong royong. Merujuk dari program dengan nama BANTAR ini, terdapat tiga indikator penting yang selaras dengan singkatannya yaitu Bersih, Aman dan Pintar.


Kontribusi yang dilakukan warga untuk merealisasikan tiga indikator yang sesuai dengan program Pemerintah Kota Jambi ini adalah dilakukannya gotong royong setiap minggu oleh semua kalangan usia guna merealisasikan indikator Bersih, menjadwalkan kegiatan siskamling yang dilakukan setiap malam guna  merealisasikan indikator Aman, serta guna merealisasikan indikator Pintar warga memanfaatkan lingkungan sekitar membuat taman baca.


Menurut penuturan Gita, salah satu warga RT.08 yang unik dari kampung ini adalah seluruh warga dari semua kalangan usia ikut berkontribusi mewujudkan program pemerintah ini dengan merealisasikan tiga indikator penting dari kampung BANTAR itu sendiri yaitu Bersih, Aman dan Pintar.


“Dalam segi kebersihan, setiap minggu diadakannya gotong royong oleh kalangan bapak-bapak untuk menata dan membersihkan lingkungan sekitar. Tidak hanya bapak-bapak, ibu-ibu dan pemuda pemudi juga ikut andil. Kalau untuk keamanan, Alhamdulillah kampung kita setiap malam mengadakan kegiatan siskamling terjadwal. Dan untuk indikator Pintar, ini bisa dibilang unik karena baik pemuda pemudi maupun ibu-ibu bekerjasama membuat taman baca yang buku nya dikumpulkan dan disusun oleh warga sekitar dan tabulampot yang dikelola oleh ibu-ibu di RT ini,” ungkap Gita.


Adanya program kampung BANTAR ini ialah dalam rangka mewujudkan smart city di Kota Jambi, dengan didukung oleh Peraturan Walikota Jambi Nomor 47 Tahun 2014 tentang Petunjuk Teknis Pelaksanaan Kampung BANTAR.


Kegiatan ini mampu menghemat anggaran pembangunan pemerintah daerah. Melalui program ini, dalam 1 tahun Pemerintah Kota Jambi hanya mengeluarkan dana sebesar 7,5 miliar untuk membangun jalan-jalan lingkungan di kawasan RT.


Dikutip dari laman sindonews.com, Walikota Jambi H. Syarif Fasha menjelaskan, selain mampu menjadi solusi atas keterbatasan anggaran di daerah, inovasi Bangkit Berdaya adalah keinginan yang kuat dari dirinya untuk kembali menggairahkan semangat dan nilai luhur bangsa Indonesia sejak dahulu, yaitu semangat gotong royong yang cenderung memudar di tengah masyarakat perkotaan.


“Bangkit Berdaya adalah sebuah inovasi dan gagasan yang saya buat sebagai solusi menyiasati kondisi keuangan/anggaran Pemkot yang sangat minim, serta pengamatan saya, rasa memiliki masyarakat terhadap lingkungan masing-masing sangat kurang. Selain itu kegiatan gotong royong di Kota Jambi juga sudah menjadi barang mahal karena budaya tersebut sudah hampir hilang,” ujar Fasha.


Pemenang kompetisi Kampung BANTAR mendapatkan hadiah berupa piagam, tropi dan uang tunai sebesar Rp. 10.000.000 untuk RT yang terdiri atas 100 kepala keluarga, Rp. 7.500.000 untuk RT dengan skala 50-99 kepala keluarga, dan Rp. 5.000.000 untuk RT dalam skala kecil yang terdiri atas 50 kepala keluarga kebawah.  

---

Name: Nawangsih
Student ID: A1B218071
Writing Partner: Jihan Eliza (A1B218064)
Entrepreneurship Project in Creative Writing




Reading Time:

Minggu, 14 Februari 2021

Discuss With Me: What If Digital Games are Included in the Curriculum?
Februari 14, 20210 Comments

 Name: Nawangsih

Class: R-003

Student Number: A1B218071

Entrepreneurship Project in Creative Writing


What if digital games are included in the education curriculum?




            Talking about games, as you know, games are one of the things that develop as time goes gets more complicated and becomes more fun for some people. The games are indiscriminate. Boy or girl, rich or poor can play games as much as they want. So that’s why many people are addicted to playing games, especially games online. Briefly, games become one of the important elements in entertainment. And what if the games are included in the education curriculum?


            In nowadays, there are many types of games that are combined into learning activities for schools. It can be said that incorporating games into the school and classroom environment is no longer taboo. Due to the increasingly digital development of the era, games have also spread rapidly online, known as online games. Online games were also recognized and classified by the former Minister of Youth and Sports, Imam Nahrawi, during his tenure as eSport (electronic sport) into the educational curriculum. And this policy was continued by the current Minister of Youth and Sports, Zainudin Amali. Of course, games have positive benefits, especially in the pandemic period. Games can be used as an activity that can be done to fill spare time. However, to be officially included in the educational curriculum does not feel quite right.          


If it happens, in my opinion, it is likely to shift the priority of regular subjects. Students will be more attracted to the game. When it is prohibited there are still many students who play games even less if it is facilitated or included in the education curriculum. And as I said before, the games are always developed, then the school tuitions may increase and parents must facilitate their children so they are not left behind.


            I think it is fair to say, I do not fully agree if digital games are included in the curriculum because it is better to focus or improve the existing curriculum, in my opinion. If it must include in the curriculum, it is enough used as extracurricular only.

Reading Time:

Minggu, 07 Februari 2021

Story of My Life: Learning English
Februari 07, 20210 Comments

 Name: Nawangsih

Student ID: A1B218071

Course: Entrepreneurship Project in Creative Writing

My Experience Learning English


Some people believe that learning a foreign language other than a mother tongue is something that must be occupied. I will stand up earnestly and say that I agree with their opinions. I think it would be good if everyone was interested in learning a foreign language which could then be used as a second language. But of course, learning a foreign language for a second language requires a process that is not short. I believe that the process is a guarantor of how valuable the experience will be.

Talk about foreign languages ​​and second languages, if you ask what language do I learn other than my mother tongue? Then my answer is English. So it can be said that English is a foreign language which is my second language. Learning English while in junior high school was my first experience in learning a second language. The first thing that I realized when learning a second language was that learning another language other than my mother tongue was not easy. I remember that I was open-mouthed when I heard my English teacher spoke and explained the materials in English. I'm open-mouthed not because of expressing that ‘Ah... I got the point’ but it’s because I don't understand what my teacher said so I'm unconsciously open-mouthed. If I remember that I would think that's quite funny and embarrassing at the same time. However, it did not take a long time for me to admit that I overly loved to learn English.

            There are many reasons why I learn English. The main reason is that I loved and interested in learning English as a second language. I think if someone loves something, they will try hard to be able to successfully achieve what they love. Therefore, I tried hard to learn English because I want to succeed in achieving what I love. Being a master in English also provides benefits which in my opinion are very useful for everyday life even for my future. English is an international language and considered the most important language in the world. English makes everything easy for me such as to find information and knowledge for my academic and even entertainment aspect for my daily life. Last but not least, learning English is fun and gives me satisfaction. So there is no doubt for me to learn English.

Learning something new certainly makes us sense new experiences too. So did I when I learned English for the first time. For the first time, I learned English when I was in junior high school which is because English is a subject that must be learned. Unfortunately, when I was in junior high school I was very aware that my ability to understand and use English was very lacking. One day my English teacher asked "Did you understand what I said?" and I, who was trying to understand the material answered with the unsure expression "Hm... yes, Sir". My unsure expression made me be laughed at by my classmates. It made me sad. I also want to understand but I can't. I almost gave up learning English at that time. Day by day until I became a fresh student of senior high school, I realized that it might be true that as we grow older, the stronger we desire to achieve our dreams. In high school, I tried hard not to give up learning English. And my English teacher supports me. She encouraged me to be confident and not give up. I remember when she smiled when I showed a news report video in front of the class and she said my video was the best among my classmates. How happy I am to hear that. Learning English makes me realize that I got so many experiences.

Learning a new language is never easy. Therefore, everyone must have the best strategy used to learn languages. My best strategy in learning English is to believe in myself. Convince me that one day I will be able to master every skill in English. The trick is to develop various other learning strategies such as determining study plans, setting learning targets, self-motivation, etc. In my opinion, although the environment and the people around us support us, we are not confident, it will certainly be difficult to enable an increase in learning. I always say to myself, if others can do it, then I can do it as well. Those are my motivational words. But behind my self-confidence, I always try not to give up and overcome my weaknesses. To be honest, from every skill in English I feel I am not good at speaking skills. So I try to practice speaking in English as often as possible. Spending and managing time is an important point so that the strategies that I have been set can be implemented properly. In the end, how valuable the experience you get is you determine it by yourself. And for me learning English is a valuable experience.

Reading Time:

Minggu, 08 November 2020

Cerita Pendek: "The Perfect Life"
November 08, 20200 Comments

 


Hellooo everyone!

Nice to see you again in "It's Story Time!" update. In this update I will share a short story that I wrote entitled 'The Perfect Life'. And I'll share it in two versions, the English version and the Indonesian version. Enjoy your reading time!


The Perfect Life

English version


In a beautiful and shady forest, live various kinds of animals. There is a rabbit who always plays cheerfully around the forest with the deer, his friend. There is an elephant who always looks engrossed in playing and drinking river water through his long trunks. There is a monkey who likes to play from the tree branch where he lives to the other tree branches. There is the lion the king of the jungle who take care of the other animals and also the forest they live in. They all live friendly in the forest. The forest where they live is close to a beautiful and beautiful village too.


One sunny morning. As they prepare to play in the forest, the rabbit sees a large tall tree in the forest being cut by one of the villagers. The rabbit was shocked and immediately told his other friends. The lion did not accept the forest he guarded was destroyed by humans. "Let's go there now!" said the lion. They hurried to the place where the trees were cut. How surprised they turned out that many trees had been cut down. They want to fight but the villagers gather too much there. They were afraid to go there, instead, they were killed as a dinner for the villagers.


"It's too crowded here, let's just go back now". The lion invited his friends back sadly. The other animals sadly followed. During the trip, they were silent and only thought of their place of residence that would be damaged by the villagers. After arriving at the place they used to sleep and play. The elephant voiced "What should we do now?" his face looks sad. "Will we not have a place to live anymore?" said the deer. Nobody answered. They all fell silent and sad thinking about how their lives will be.


Day by day, the trees in the forest are getting fewer. Residents only cut down and never plant trees again. The animals in the forest find it increasingly difficult to survive.


At night, suddenly there was very heavy rain. The rain continued until the next day. Residents and animals in the forest are worried. If it continues like this, floods might occur. In the end what they were worried about happened. All the houses were flooded. Likewise, the forest in which animals live is also flooded because of the lack of trees that function to absorb water.


The animals were carried by the flood current to the villagers' homes. Eventually, they were forced to stay there to protect themselves from the torrential flood currents. But the presence of animals in the homes of villagers frightened the children of the villagers. The villagers also could not bear to drive away from the animals when the flood current was swift.


In the end, one of the villagers who felled the tree realized that the presence of the animals in the village was due to their act of cutting trees in the forest. Though forests need trees so that animals can live happily there. The next day, the flood had begun to shrink. The woodcutter invited other villagers to plant trees back together in the forest.


Now, animals are back to living happily in the forest because their home has returned ...

Indonesian version


Di suatu hutan yang indah dan rindang, hiduplah berbagai macam jenis hewan. Ada kelinci yang selalu bermain dengan riang mengelilingi hutan bersama dengan temannya si kancil. Ada gajah yang selalu terlihat asyik bermain dan meminum air sungai melalui belalainya yang panjang. Ada monyet yang senang bermain dari ranting pohon tempat dia tinggal ke ranting pohon yang lainnya. Ada singa si raja hutan yang menjaga hewan-hewan lainnya dan juga hutan yang mereka tinggali. Mereka semua hidup bersahabat didalam hutan. Hutan tempat mereka tinggal dekat dengan desa yang indah dan asri pula.


Suatu ketika di pagi yang cerah. Di saat mereka bersiap untuk bermain dihutan, si kelinci melihat pohon tinggi yang besar di dalam hutan sedang di potong oleh salah satu penduduk desa. Si kelinci terkejut dan langsung memberitahu teman-temannya yang lain. Si singa tidak terima hutan yang dijaga nya dirusak oleh manusia. “Ayo kita kesana sekarang!” kata si singa. Mereka bergegas ke tempat pohon-pohon itu ditebang. Alangkah terkejutnya mereka ternyata sudah banyak pohon yang ditebang. Mereka ingin melawan namun penduduk desa terlalu banyak berkumpul disana. Mereka takut jika kesana, malah mereka yang dibunuh sebagai santapan makan malam para penduduk desa.


“Terlalu ramai disini, ayo kita kembali saja sekarang”. Si singa mengajak teman-temannya kembali dengan sedih. Hewan-hewan yang lain pun dengan sedih mengikuti. Selama perjalanan mereka terdiam dan hanya memikirkan tempat tinggal mereka yang akan dirusak oleh penduduk desa. Setelah sampai ditempat mereka biasa tidur dan bermain. Si gajah bersuara “Apa yang harus kita lakukan sekarang?” raut wajahnya terlihat sedih. “Apakah kita tidak akan punya tempat tinggal lagi?” kata si kancil. Tidak ada satupun yang menjawab. Mereka semua terdiam ketakutan dan sedih memikirkan bagaimana kehidupan mereka nanti.


Hari berganti hari, pohon-pohon dihutan semakin sedikit. Para penduduk hanya menebang dan tidak pernah menanam pohon kembali. Para hewan didalam hutan semakin sulit bertahan hidup.


Saat malam hari, tiba-tiba saja terjadi hujan yang sangat lebat. Hujan tersebut terus bertahan sampai keesokan harinya. Para penduduk maupun para hewan didalam hutan khawatir. Jika seperti ini terus bisa-bisa terjadi banjir. Pada akhirnya apa yang mereka khawatirkan terjadi. Semua rumah-rumah penduduk terendam oleh banjir. Begitu pula hutan tempat para hewan tinggal juga terendam oleh banjir karna sedikitnya pohon yang berfungsi menyerap air.


Para hewan terbawa arus banjir hingga ke rumah penduduk desa. Akhirnya mereka terpaksa berdiam disana untuk berlindung dari arus banjir yang deras. Namun keberadaan para hewan di rumah penduduk desa banyak membuat anak-anak penduduk desa ketakutan. Para penduduk desa juga tidak tega untuk mengusir para hewan disaat arus banjir sedang deras.


Pada akhirnya salah satu penduduk yang menebang pohon menyadari bahwa kehadiran para hewan ke desa adalah karena ulah mereka sendiri yang memotong pohon-pohon di dalam hutan. Padahal hutan memerlukan pohon agar para hewan bisa hidup dengan bahagia disana. Keesokan harinya, banjir sudah mulai menyusut. Si penebang pohon tersebut mengajak penduduk desa yang lain agar bersama-sama menanam pohon kembali di hutan.


Sekarang, hewan-hewan kembali hidup bahagia di dalam hutan karena tempat tinggal mereka telah kembali…


❤❤❤


Reading Time:
FIND ME ON KOMPASIANA
November 08, 20200 Comments

 



My personal blog in Kompasiana.com: Click here (you can visit me by clicking this link or find me by search my account = @naawangsh)

Hello everyone! 

I started to write on Kompasiana. So far, I've written some articles, that are:

1. Perlukah Kebijakan Social Distancing?

https://www.kompasiana.com/naawangsh/5fa785d2d541df0bb7640d84/perlukah-kebijakan-social-distancing

2. Online Learning or Face to Face Learning?

https://www.kompasiana.com/naawangsh/5fa78bd1d541df46da00a4c2/online-learning-or-face-to-face-learning


Thank you and see you on other updates in my blog

Have a nice day and stay safe!

Reading Time:

Sabtu, 07 November 2020

Discuss With Me: An Ideal Teacher
November 07, 20200 Comments

 


An Ideal Teacher in My Opinion

            Teachers have an important role in education. Not only teaching, but a teacher must also be able to educate his students to be better, especially in terms of attitude. To be able to teach and educate students it will be better if the teacher first takes a significant approach to students so that students can be excited in the learning process. Because based on my personal experience, I interest in a subject is because the teacher of that subject can attract my attention. More clearly, the teacher has the criteria for the ideal teacher in my opinion. However, of course, every student has different views regarding the criteria for an ideal teacher.


I have several criteria for the ideal teacher. The first is a teacher who has a sense of humor. The point is that in the teaching and learning process the teacher can create a friendly classroom situation by inserting light jokes when explaining a material. I think this can make students feel close to the teacher so that later they will not hesitate to ask questions or express opinions.


The second is coherent in explaining. I think every student agrees that ideally, teachers should have criteria like this. Sometimes the beginning of cases where students are bored learning in class is because the teacher who teaches is too convoluted in explaining the material. For this reason, the teacher with the ability to explain the material well will get a good impression from the students because they do not feel in vain listening to it for a long time but do not catch the material being taught.


               The third is not comparing students. No one student in this world who wants to be compared with other students. Sometimes teachers think that comparing is an instant way to motivate students to change. It is a big mistake. The teacher should have understood that students have different personalities and strategies in learning. Some students are normal, slow, and fast learning. It is the teacher's job to help students 'learning problems instead of reducing their students' motivation to learn.


The fourth is a teacher who can be a role model for the students. In this case, it means that the teacher has successfully stolen the student’s heart. But it doesn’t mean that students want to become teachers too. It could be that students want to follow the spirit, behavior, or achievements of the teacher. If there is a teacher that I consider as a role model, it means I really like him/her from any aspect.


Even though I have the criteria for an ideal teacher, that doesn't mean I don't respect teachers who don't fit into the criteria for an ideal teacher in my opinion. The duties and services of teachers are very noble, we must thank the teachers for the knowledge they provide.

Reading Time:

@way2themes